Dalam kesendirian, tak ada apapun selain angan yang melayang. Senyap, kadang sesekali sedikit senyum mengembang atau kemelankolisan diri.
-Surabaya 8/11/12-
Jendela angan-angan
-antara awal dan akhir-
Kamis, 08 November 2012
Selasa, 06 Maret 2012
JANGAN TERLALU BANYAK KATA-KATA CINTA
.. Aku gak percaya dengan kata-kata cinta. Yang aku percaya adalah hubungan cinta tanpa terlalu banyak kata cinta. Rasanya aku sedikit muak bila harus mengumbar dan mendengar kata-kata cinta yang terlalu muluk-muluk. Ah, ya aku memang bukan laki-laki yang romantis atau apalah seperti yang ada di pikiran banyak wanita. Aku hanya bisa menikmati hubungan cinta bila tak terlalu banyak kata-kata cinta,.
Minggu, 26 Februari 2012
Yang terlintas
.. Kadang kehidupan itu jangan terlalu ditanggapi dengan terlalu serius. Apalah arti hidup ini jika tidak ada waktu yang bisa kita nikmati, entah itu bersama kawan-kawan, keluarga, atau apapun yang ingin kita lewati. Jalani lah hidup dengan damai dan penuh senyuman. Andaipun ada sesuatu yang membuat kita menjadi marah, marah lah namun hanya sesaat saja. Jangan terlalu ambisius untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, cukuplah dengan semangat dan tekad yang kuat saja. Percayalah itu akan membuat semuanya akan baik-baik saja. Penuhilah hidup ini dengan suka cita. Akan tetapi sempatkanlah merenung dan intropeksi diri sejenak sebelum tidur, dan syukurilah apa-apa yang telah kita dapatkan,.
Jumat, 20 Januari 2012
Gandum, Air, dan Garam
Tak ada yang istimewa dengan gandum, air dan garam. Ketiganya adalah
bahan-bahan yang sudah kerap kita jumpai di dapur kita. Tetapi di tangan
Idries Shah (m. 1996), sarjana kelahiran India yang banyak menulis
tentang dunia sufi (tasawwuf, mistik Islam), gandum, air, dan
garam bisa menjadi metafor yang menarik tentang perjalanan hidup manusia
menuju kepada kematangan. Saya mengutip metafor ini dari buku Shah yang
memuat kisah-kisah sufi yang menarik, Tales of the Dervishes (1969).
Kita melihat gandum terhampar di ladang yang luas, air mengalir dari
mata air yang jernih, dan garam tersembunyi di tambang yang begitu kaya.
Ketiganya berada dalam kondisi alamiahnya masing-masing. Sebelum ada
“tangan” manusia yang menyentuhnya, ketiga benda itu hanyalah
barang-barang “mati” yang mengandung potensi tertentu.
Dalam kondisi alamiahnya, gandum hanyalah gandum belaka. Saat tangan
manusia menyentuhnya, memanennya dari ladang, dan mengangkutnya ke
tempat pengolahan, maka gandum berubah menjadi terigu. Gandum mengalami
kenaikan maqam, kelas. Hal serupa terjadi pada air dan garam. Saat
tangan manusia menyentuh keduanya dengan cara tertentu, mereka menjadi
air dan garam yang mempunyai kegunaan yang lebih luas.
Akan tetapi, terigu, air, dan garam yang sudah disentuh tangan manusia
pun akan menjadi benda yang saling terpisah satu dari yang lainnya, jika
tak mengalami kenaikan kelas lebih lanjut. Perubahan kualitatif terjadi
saat ada “koki” ahli yang menggabungkannya dalam adonan, dan membuatnya
menjadi roti.
Gandum, air, dan garam bisa menjadi sesuatu yang berguna karena
melewati tangga-tangga yang terus menaik, meninggi, hingga mencapai ke
tingkat yang sempurna -- roti.
Dalam kondisi alamiahnya, ketiga benda itu tak banyak berguna bagi
manusia. Itulah tangga pertama, tangga alamiah. Saat tangan manusia
menyentuhnya, tiga benda itu mulai memperlihatkan kegunaannya – gandum
jadi terigu, air alami jadi air dalam bak, garam alami jadi garam olahan
yang berguna untuk berbagai kebutuhan. Itulah tingkatan kedua,
tingkatan kultural.
Tingkatan tertinggi tercapai saat ketiga benda itu diolah seorang koki
ahli dan kemudian menjadi roti. Itulah tingkatan ketiga, tingkatan
“spiritual”. Di mata kaum sufi, perjalanan gandum, air, dan roti adalah
metafor yang menggambarkan juga perjalanan manusia menuju kepada
kesempurnaan tertinggi, yaitu tingakatan spiritual yang dalam bahasa
mistik Islam sering disebut dengan maqam ma’rifat.
Saat manusia lahir, ia mempunyai potensi alamiah yang tersembunyi,
persis seperti gandum, air, dan garam dalam kondisi naturalnya. Potensi
itu tak akan pernah muncul secara aktual ke permukaan manakala tak ada
“tangan” yang menyentuhnya, sehingga sesuatu yang semula “potensial” itu
menjadi “aktual”. Tanpa sentuhan itu, manusia akan tetap seperti gandum
yang tak berubah jadi terigu.
Begitulah, tanpa seorang “guru” yang menyentuh potensi tersembunyi itu,
ia tak akan pernah muncul ke permukaan. Pada level kedua ini, manusia
belajar ilmu dan sains dengan pelbagai cabang-cabangnya yang rumit dan
banyak.
Pada level ini, manusia berusaha belajar keras untuk meraih ilmu, entah
agama atau ilmu-ilmu duniawi – fisika, kimia, biologi, kedokteran,
ekonomi, politik, sosiologi, antropologi, dan cabang-cabang yang lain.
Tetapi, ini belumlah tahap yang memadai. Pada level ini, manusia baru
berhenti pada tingkatan “terigu”. Dia belumlah menjadi roti. Untuk naik
satu tangga lagi, manusia butuh bukan sekadar guru yang mengajarkan
ilmu-ilmu tersebut. Ia butuh “guru” dalam pengertian lain, yakni Guru
Kebijaksanaan; Guru dengan huruf “G” besar.
Pada taraf inilah, manusia melangkah ke taraf tertinggi, taraf
pencerahan, persis saat gandum disentuh oleh seorang Koki, kemudian
dicampur dengan air dan garam, lalu menjadi roti. Manusia tentu punya
kebebasan sepenuhnya untuk berhenti pada level gandum, atau bergerak ke
level terigu, atau berusaha lebih jauh lagi menjadi roti.
Saat manusia berhenti pada satu level tertentu, dan malas bergerak ke
level berikutnya, biasanya ia akan gampang mengidap penyakit sombong.
Saat gandum merasa dirinya sudah cukup sempurna, dan mengira tak ada maqam/tingkatan
lain yang lebih tinggi, dia bisa terjebak pada perasaan jumawa,
sombong. Inilah kesombongan yang timbul karena cara pandang yang
“parokialistik” atau sempit.
Saat gandum, air, dan garam menjadi roti, ketiganya tentu saja
mengalami perubahan bentuk. Jika gandum ngotot tak mau berubah bentuk
menjadi terigu, lalu berubah bentuk lagi menjadi roti, maka ia akan
terjebak dalam kondisi alamiahnya sebagai gandum yang kurang banyak
berguna.
Begitu juga, manusia tak akan bisa mencapai taraf “roti”, taraf ma’rifat,
taraf pencerahan, jika tak bersedia melakukan perubahan mendasar pada
dirinya – dari sikap parokialistik, sempit, dan arogan karena menguasai
jenis ilmu tertentu, ke sikap terbuka, mau berdialog dengan orang-orang
lain dengan ilmu-ilmu yang berbeda.
Untuk mencapai taraf itu, manusia butuh Guru Kebijaksanaan – bisa Guru
dalam pengertian personal, atau Guru dalam pengertian proses untuk
terus-menerus belajar dan dialog dengan orang-orang yang berbeda, dengan
tradisi dan ilmu yang berbeda-beda pula.
Dengan proses seperti itulah, manusia akan menjadi “roti”, menjadi pribadi yang bijak, yang tercerahkan.
Masalah kerap kerap timbul karena adanya arogansi “provinsialistik”,
entah di kalangan akademik, kalangan agama, atau kalangan masyarakat
secara luas. Arogansi itu timbul karena masing-masing pihak merasa bahwa
ilmunya adalah yang paling “super”, bahwa paham yang ia anut adalah
yang paling baik, bahwa golongan lain sudahlah pasti tak berguna, karena
salah atau malah “tersesat”.
Dengan kata lain: karena si gandum merasa bahwa keganduman adalah tahap
tertinggi. Dia tak tahu, ada tahap yang lebih dari itu -- tahap roti.
(Dikutip dari Blog BeritaSatu.com oleh Ulil Abshar Abdalla)
Langganan:
Postingan (Atom)